Buah Pare Untuk Kencing Manis

posted in: Blog | 0

Buah Pare Untuk Kencing Manis

Buah pare (paria) atau momordica charantia sudah lama dikenal ampuh untuk mengatasi diabetes dalam pengobatan tradisional Cina dan pengobatan Ayurweda (India).

Selain itu buah yang mempunyai rasa yang pahit ini juga digunakan sebagai pengobatan tradisional Meksiko dan Brasil.

Dalam pengobatan tradisional tersebut buah atau daun pare biasanya ditumbuk lalu diperas. Setelah itu sari buah pare dalam bentuk jus diminum sebagai pengobatan, bisa diminum dengan dikombinasikan dengan obat diabetes ataupun diminum secara langsung.

Untuk seseorang yang tidak menyukai rasanya yang sangat pahit ataupun mempunyai masalah pada pencernaannya maka bisa menggunakan alternatif lain dengan cara diseduh sebagai teh.

Berbagai suku bangsa tersebut menggunakan pare sebagai obat untuk mengatasi diabetes tentunya mempunyai alasan yang jelas.

Berbagai penelitian mengenai pare baik pra klinis ataupun klinis selama 4 dekade terakhir ini telah berhasil membuktikan khasiat dari pare dalam mengatasi diabetes.

Misalnya sebuah penelitian di Universitas Giessen, Jerman yang menunjukkan bahwa buah pare mempunyai manfaat medis pada sebuah percobaan yang menggunakan tikus yang membawa gen diabetes.

Salah satu peneliti, Profesor Krawinkel mengatakan, “Hasil pengobatan sangat menakjubkan padahal baru menginjak minggu ke-5. Tikus percobaan yang sudah diberi pare mempunyai kadar gula darah yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.”

Ternyata penelitian lain juga menghasilkan kesimpulan yang sama. Peneliti C. Lau dan A. Raman dari Pharmacognosy Research Laboratories, Department of Pharmacy, King’s College, Inggris mengatakan, “Jus bubuk biji atau buah pare bisa menurunkan kadar glukosa darah puasa serta meningkatkan toleransi glukosa.”

 

Buah pahit yang populer

Buah pare merupakan tumbuhan yang berasal dari keluarga yang sama dengan labu, cucurbitaceae (semangka) dan ketimun.

Ciri khas dari tanaman ini adalah tanaman ini tumbuh secara merambat dengan sulur-sulur spiral pada ujung tangkai tanaman.

Buah pare memiliki bentuk yang terlihat mirip mentimun akan tetapi lebih lancip pada bagian ujung dan berkulit keriput. Pada saat masih mentah selubung bijinya berwarna putih namun pada saat matang akan berubah menjadi merah.

Jika dibandingkan dengan semua sayuran lain, pare merupakan salah satu sayuran yang sangat pahit yang bisa dimakan.

Varietas pare terdiri dari banyak jenis dengan bentuk, warna dan kadar kepahitan yang berbeda. Tanaman ini sangat mudah untuk dibudidayakan sehingga tanaman pare sering ditemui di wilayah-wilayah pertanian tropis dan sub-tropis di benua Afrika, Asia dan Amerika.

Pare sangat terkenal di seluruh dunia dan hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya nama lokal dari sayuran ini, misalnya Nigauri  untuk Jepang, Kugua untuk China, Bitter gourd untuk Inggris, Korola untuk Bengali, Carilla untuk Guyana, Ampalaya untuk Tagalog dan Karela untuk Hindi.

 

Bahan aktif Pare

Pare memiliki efek antidiabetes yang berasal dari tindakan kompleks beberapa senyawa dalam buahnya. Para peneliti telah mengidentifikasi senyawa penting dalam pare seperti vicine, charantin,  polipeptida-p dan peptida.

Senyawa-senyawa tersebut akan menstimulasi sel beta pada kelenjar pankreas untuk menghasilkan insulin dengan jumlah yang lebih banyak, selain meningkatkan cadangan glikogen di hati.

Komponen bioaktif lain dari pare seperti momordicosides dan momordicine serta asam lemak yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi dalam bijinya membantu membalikkan resistensi insulin.

Saponin dan serat yang terdapat dalam pare bisa menghambat pencernaan karbohidrat dan mencegah lonjakan gula darah setelah makan.

Varietas, metode pembudayaan, pengolahan, dan sebagainya bisa memberikan pengaruh terhadap efektivitas dan kandungan bahan aktif dalam pare.

Penelitian lanjutan tengah dilakukan melalui Bitter Gourd Project yang disponsori The World Vegetable Center sejak Maret 2011 lalu.

Tujuan dari penelitian ini  adalah untuk mengoptimalkan tingkat senyawa anti-diabetes dalam sayuran tersebut.

Langkah pertama adalah memilih varietas dan galur pare yang paling menjanjikan untuk pengembangan lebih lanjut.

Di India, Thailand serta Tanzania, para pelaksana lapangan melakukan uji coba untuk meninjau pengaruh cara pembudidayaan dan praktik pascapanen terhadap retensi senyawa-senyawa aktif pada buah pare.

Leave a Reply