Sirosis hati merupakan konsekuensi dari penyakit hati kronis yang ditandai dengan penggantian jaringan hati oleh fibrosis, jaringan parut dan nodul regeneratif  atau benjolan yang terjadi sebagai hasil dari sebuah proses di mana jaringan yang rusak dibuat ulang.

Sirosis hati menyebabkan hilangnya fungsi hati. Sirosis ini paling sering disebabkan karena alkohol, hepatitis B dan hepatitis C, serta penyakit hati berlemak, tetapi memiliki banyak penyebab lain yang mungkin. Beberapa kasus sirosis hati yang tidak diketahui penyebabnya sering disebut  idiopatik.

Asites atau penimbunan cairan dalam rongga perut adalah komplikasi yang paling umum dari sirosis, dan berkaitan dengan kualitas hidup yang buruk, sehingga meningkatkan risiko infeksi, dan hasil jangka panjang yang buruk.

Potensi lain sirosis hati selain mengancam nyawa pasien adalah terjadinya komplikasi ensefalopati yaitu kebingungan dan koma serta perdarahan dari varises esofagus.

Beberapa tanda dan gejala berikut dapat terjadi dengan adanya sirosis atau sebagai akibat dari komplikasi sirosis. Banyak yang spesifik dan dapat terjadi pada penyakit lain dan tidak selalu menunjuk ke sirosis. Demikian juga, tidak adanya tidak menutup kemungkinan sirosis.

  • Spider angiomata atau spider nevi – Lesi vaskular terdiri dari arteriola pusat yang dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh  yang lebih kecil karena peningkatan estradiol. Ini terjadi pada sekitar 1/3 dari kasus.
  • Palmar eritema – Terdapat bintik-bintik pada telapak tangan dan tampak membesar, karena metabolisme hormon seks berubah.
  • Perubahan pada kuku:
  1. Garis Muehrcke yaitu garis berpasangan yang melintang dipisahkan oleh warna normal yang dihasilkan dari Hipoalbuminemia dikarenakan produksi albumin yang tidak memadai.
  2. Kuku Terry dua-pertiga proksimal pada lempeng kuku tampak putih dengan distal sepertiga merah, juga dikarenakan hipoalbuminemia.
  3. Clubbing – sudut antara lempengan kuku dan lipatan proksimal kuku lebih dari 180 derajat
  • Hipertrofik osteoarthropathy –  Proliferative kronis yang disebabkan karena peradangan pada tulang yang menyebabkan rasa sakit berkepanjangan.
  • Duyputen contracture.- Penebalan dan pemendekan fasia palmaris yang mengarah pada kelainan fleksi jari-jari. Diduga disebabkan oleh proliferasi fibroblastik dan deposisi kolagen yang kacau. Hal ini relatif umum yaitu sekitar 33% dari pasien.
  • Ginekomastia – Perkembang biakan sel jinak pada jaringan kelenjar payudara pria yang menjadikan lentur seperti karet  atau keras tergantung pada konsentris dari puting. Hal ini disebabkan oleh peningkatan estradiol dan dapat terjadi pada sekitar 66% dari pasien.
  • Hipogonadisme – Dinyatakan sebagai impotensi, infertilitas, atau hilangnya dorongan seksual, dan atrofi testis karena cedera pada gonad primer atau penekanan fungsi hipotalamus atau pituitari.
  • Perubahan ukuran pada hati. Bisa membesar atau menyusut.
  • Splenomegali  atau peningkatan ukuran limpa – Disebabkan oleh kemacetan pulp merah sebagai akibat dari hipertensi portal.
  • Ascites – Akumulasi cairan dalam rongga peritoneal sehingga menimbulkan kusam panggul membutuhkan sekitar 1500 mL untuk mendeteksi kusam panggul.
  • Caput medusa – Pada hipertensi portal, periumbilikalis vena agunan dapat melebar. Darah dari sistem vena portal dapat didorong melalui pembuluh darah periumbilikalis dan akhirnya ke pembuluh darah dinding perut, mewujudkan sebagai caput medusa.
  • Cruveilhier-Baumgarten murmur- Vena hum mendengar sampai pada area epigastrium pada pemeriksaan dengan stetoskop karena koneksi yang berkaitan antara sistem portal dan vena periumbilikalis dalam hipertensi portal.
  • Fetor hepaticus – Bau napas yang tidak sedap  sebagai akibat dari peningkatan dimetil sulfida.
  • Penyakit kuning – Munculnya warna kekuningan pada kulit, mata, dan selaput lendir karena bilirubin meningkat sekitar setidaknya 2 hingga 3 mg per dL atau 30 mmol / L. Urine juga dapat terlihat gelap.
  • Asterixis – Asynchronous Bilateral pada saat tangan direntangkan  dorsiflexed pada tangan akan terlihat pada pasien yang mengidap ensefalopati hati.
  • Sebab-sebab yang lainnya seperti lemah, kelelahan, anoreksia dan penurunan berat badan.

Penyebab Sirosis Hati

Ada banyak sekali kemungkinan yang menyebabkan terjadinya sirosis hati. Terkadang bisa saja lebih dari satu penyebab yang terdapat pada satu pasien yang sama. Di Eropa dan Amerika, penyebab utama sirosis hati yang paling umum adalah konsumsi alkoholyang tidak terkontrol dan penyakit hepatitis C.

Selain itu juga banyak sekali penyebab terjadinya sisrosis hati selain dikarenakan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Berikut ini adalah penyebab-penyebab terjadinya sirosis hati :

  • Alcoholic liver disease  atau ALD  – Penyakit hati pada seorang alkoholik. Sirosis beralkohol berkembang antara 10% hingga 20% dari individu yang sering minum minuman beralkohol selama satu dekade atau lebih. Alkohol tampaknya melukai hati dengan menghalangi sistem metabolisme normal seperti protein, lemak, dan karbohidrat.
  • Non-alkohol steatohepatitis atau NASH –  Pada NASH, terjadi penumpukan lemak pada hati yang mengakibatkan adanya jaringan parut. Jenis hepatitis tampak terkait dengan diabetes, kekurangan protein, obesitas, penyakit arteri koroner, dan pengobatan dengan obat kortikosteroid.
  • Hepatitis C kronis – Infeksi dengan virus hepatitis C yang mengakibatkan peradangan pada hati dan kelas variabel kerusakan organ yang selama beberapa dekade dapat menyebabkan sirosis. Sirosis yang disebabkan oleh hepatitis C adalah alasan yang paling umum untuk transplantasi hati.
  • Hepatitis B kronis – virus hepatitis B menyebabkan peradangan pada hati dan luka yang selama beberapa dekade dapat menyebabkan sirosis. Hepatitis D tergantung pada kehadiran hepatitis B dan mempercepat terjadinya sirosis pada infeksi yang bersamaan.
  • Primary biliary cirrhosis – Tanpa gejala, tapi kebanyakan pasien mengalami kelihan seperti hiperpigmentasi pada kulit, cepat lelah, pruritus atau gatal-gatal, dan sedikit adanya gejala penyakit kuning disertai dengan pembengkakan pada hati atau hepatomegali.
  • Primary sclerosing cholangitis atau PSC – Adalah gangguan kolestasis progresif yang membuat pasien mengalami pruritus, adanya kelebihan lemak pada tinja atau steatorrhea, kekurangan vitamin yang larut dalam lemak, dan penyakit tulang metabolik. Ada hubungan yang kuat dengan penyakit radang usus atau IBD, terutama kolitis ulserativa.
  • Autoimmune hepatitis – Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan kekebalan dikarenakan adanya  peradangan pada hati dan akhirnya menyebabkan jaringan parut dan sirosis. Temuan meliputi peningkatan pada serum globulin, terutama globulin gamma. Terapi dengan penggunaan prednison  atau azathioprine juga menguntungkan.
  • Hereditary hemochromatosis – Biasanya terjadi pada pasien yang memiliki riwayat keluarga sirosis, hiperpigmentasi pada kulit, diabetes mellitus, gangguan dengan berbagai gejala yang timbul akibat akumulasi kristal kalsium pyrophosphate dihydrate di jaringan ikat atau pseudogout,  atau kardiomiopati, semua karena tanda-tanda kelebihan zat besi.
  • Wilson’s disease atau penyakit wilson – Gangguan resesif autosomal yang ditandai dengan rendahnya serum seruloplasmin dan meningkatnya kandungan tembaga pada hati pada saat pemeriksaan melalui biopsi hati. Mungkin juga dengan adanya lingkaran hitam pada iris dikarenakan endapan tembaga pada  membran descemet yang biasa  disebut cincin Kayser-Fleischer di kornea dan perubahan status mental.
  • Alpha 1-antitrypsin atau A1AD – gangguan resesif autosomal yang dikarenakan  pasien mungkin memiliki penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, terutama jika mereka memiliki riwayat kesehatan sebagai perokok berat. Dikarenakan serum AAT yang rendah.
  • Sirosis jantung. Karena kronis gagal jantung pada sisi kanan yang mengarah ke hati mengalami kemacetan.
  • Galaktosemia – Gangguan metabolisme genetik yang langka  yang mempengaruhi kemampuan individu untuk memetabolisme galaktosa pada gula dengan benar. Sehingga membuat gangguan pada autosomal yang menjadikan individu kekurangan enzim yang bertanggung jawab sehingga terjadi pengurangan kadar galaktosa pada tubuh.
  • Penyimpanan glikogen penyakit tipe IV – Adalah gangguan metabolisme langka pada individu yang dikarenakan oleh faktor keturunan. Karena tidak adanya enzim glikogen percabangan amylo-1,4-1, 6 transglucosidase, sehingga mengakibatkan rantai glukosa yang sangat panjang dan tidak bercabang pada glikogen dan mengakibatkan penumpukan dalam jaringan tubuh terutama jantung dan hati yang hasil akhirnya mengakibatkan sirosis hati dan kematian dalam jangka waktu 5 tahun.
  • Cystic fibrosis atau fibrosis kistik – Gangguan resesif autosomal kritis yang mempengaruhi paru-paru, pankreas, hati dan usus. Hal ini ditandai dengan pengangkutan klorida dan nartrium yang berlebihan pada lapisan epitel sehingga terjadi penumpukan dan bila menumpuk dalam hati akan menjadikan sirosis hati.
  • Hepatotoksik obat atau racun – Pemakaian obat-obatan seperti Acetaminophen atau lebih dikenal dengan nama parasetamol, juga dikenal dengan nama merek Tylenol dan Panadol biasanya ditoleransi dengan baik pada dosis yang sesuai dengan resep dokte. Tetapi overdosis adalah penyebab paling umum dari obat ini yang mengakibatkan terjadinya penyakit hati dan gagal hati akut di seluruh dunia.
  • Lysosomal acid lipase deficiency atau Defisiensi LAL – Adalah suatu kondisi langka genetika autosomal resesif  yang ditandai dengan pembengkakan hati, gangguan pada fungsi hati dan kandungan lemak yang berlebihan pada darah atau hiperlipidemia tipe II. Pembesaran limpa atau splenomegali dan bukti hipersplenisme ringan dapat berpengaruh pada beberapa pasien. Kasus ini tidak dapat diobati, Kekurangan LAL dapat menyebabkan fibrosis, sirosis, gagal hati dan kematian.

Langkah pengobatan sirosis hati

Pada umumnya, kerusakan pada sel-sel hati tidak dapat direhabilitasi. Tujuan pengobatan hanyalah untuk mencegah pembentukan jaringan parut hati secara lebih lanjut atau memperlambat munculnya kerusakan pada sel-sel hati.

Sirosis memiliki kecenderungan semakin memburuk jika penyebab yang mendasari muncul sirosis tetap ada. Oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk memperlambat atau menghentikan penyebab sirosis, seperti:

  • Menjauhi konsumsi alkohol jika penyebab sirosis adalah alkohol.
  • Pengobatan untuk pengendalian virus hepatitis.
  • Menggunakan steroid atau obat untuk menekan kekebalan tubuh lainnya untuk mengobati penyakit-penyakit autoimun yang dapat menyebabkan kerusakan pada hati.
  • Menghapus kelebihan kadar zat besi yang terjadi pada hemokromatosis.

Berbagai macam metode pengobatan mungkin akan disarankan, tergantung dari tingkat keparahan sirosis sserta gejala-gejala yang berkembang, yaitu:

  • Diet rendah natrium atau diet diuretik untuk mengurangi jumlah cairan yang terkumpul di dalam tubuh.
  • Obat untuk mengurangi rasa gatal.
  • Terapi obat-obatan untuk mengurangi hipertensi portal.
  • Pengurangan ascites atau cairan yang terkumpul pada perut.

Jika pasien mengalami perdarahan pada bagian usus sehingga muntah darah atau keluar darah pada tinja, atau tinja menjadi hitam, dokter kemungkinan akan melakukan tindakan untuk mengatasinya. Ada banyak macam teknik pembedahan yang dapat dilakukan untuk menghentikan perdarahan serta mengurangi resiko yang lebih lanjut.

Dalam kasus-kasus yang lebih parah yaitu ketika jaringan parut telah meluas serta organ hati nyaris tidak dapat berfungsi dengan baik, maka jalan satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalan transplantasi hati.